More Than Words


Blurb

Marvel Wongso punya segalanya. Muda, cerdas, anak orang kaya.

Rania Stella Handoyo kebalikan dari semua itu. Murid beasiswa, sederhana, berusaha bertahan hidup di Singapura dengan tiap lembar dolar yang dimilikinya.

Mereka menyimpan rasa untuk satu sama lain, namun tak berani mengungkapkannya. Ketika berhasil terucap pun, yang satu selalu menganggap yang lainnya tak bersungguh-sungguh.

Dikejar keterbatasan waktu, mampukah Marvel dan Rania memaknai cinta itu lebih dari sekedar kata-kata?

***


Judul buku: More Than Words
Penulis: Stephanie Zen
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: 2015
ISBN: 978-602-03-1355-9
Jumlah halaman: 224

***

Review novel More Than Words

Ini merupakan novel pertama karya penulis yang saya baca. Awalnya saya melihat judulnya menarik. "More Than Words", kisah apa yang ingin diceritakan? Saya juga suka dengan sampul buku ini, hitam dan kuning, rasanya pas. Sangat menonjolkan judul ini. 

Begitu membaca bab pertama, saya sangat suka gaya penceritaan yang digunakan penulis. Memang mix dengan Bahasa Inggris.. tapi rasanya semuanya mengalir secara natural dan pas. Bahasanya sangat komunikatif sehingga betul-betul bisa dinikmati. Pengetikan pun sangat rapi. Saya hanya menemukan satu kesalahan ketik, dimana terdapat kata "keci" yang seharusnya adalah "kecil".

Novel ini ditulis dengan dua sudut pandang. Penggunaan dua sudut pandang, Marvel dan Rania secara bergantian sangat membantu dalam memahami cerita yang disampaikan. Kejadian demi kejadian disampaikan dengan runut meski dari sudut pandang yang berganti-ganti. Bahkan penggunaan P.O.V keduanya, mampu membuat saya masuk dalam cerita.

Saking asyiknya menikmati novel ini, bahkan baru membaca tiga bab saya sudah dibuat terharu. Padahal itu hanya hal sederhana, yaitu saling berbagi kepada teman! Belum tentang kisah cinta Rania dengan Marvel.. Hmm..! Baiklah, saya sudah jatuh cinta dengan novel ini! ♡

Semakin ke belakang, sayang sekali konflik dalam novel ini terlalu dangkal. Bagi saya sendiri, feel yang saya peroleh di awal-awal novel mulai menghilang. Antusiasme membaca mulai menurun, apalagi saya sudah menebak bagaimana ending cerita ini. Meskipun ternyata ending tidak tercipta dengan begitu mudahnya.

Sebetulnya pada awal membaca novel ini, saya agak kaget ketika tokoh menceritakan usianya yang masih 20 tahun dan 19 tahun. Well, untuk  ukuran novel metropop, saya pikir tokoh dalam novel ini terlalu muda. Meskipun novel ini menceritakan tentang keseriusan cinta, manis sebetulnya, tapi feel metropopnya terasa masih kurang. Apalagi dengan permasalahan yang tidak terlalu kompleks. Jadi saya rasa, remaja pun bisa membaca novel ini.
Tapi justru mungkin karena itu juga novel ini masuk kategori metropop. 

Nah, banyak sekali nasehat yang bisa dipetik dari novel. Terutama dalam hal pacaran bukan untuk main-main, tapi harus dengan tujuan serius untuk menikah.
"Jadi, tidak perlu ada acara menggaruk-garuk tanah karena patah hati akibat pacaran 'just for fun'." - hal 9
"When you've found the right person, you just know. I don't have to be thirty five to know that I've found 'the one', right?" - hal 168 
Tokoh Marvel sebagai anak orang kaya, dapat mengajarkan kita bahwa jangan menilai seseorang hanya dari harta yang dimilikinya. Kita tidak tahu, bagaimana seseorang itu berusaha keras untuk mencapai kesuksesan *meskipun dalam hal ini, orang tua Marvel sih yang berjuang dari 0 sebelum jadi kaya seperti sekarang. 
Dan tentu saja, untuk menjadi percaya diri, tidak melulu dengan mengenakan barang bermerek.
"You can buy Louis Vuitton, but trust me, you can't buy style." - hal 25
Sungguh, kita tidak perlu mengkhawatirkan apa yang orang lain katakan dan menjadi rendah diri karenanya.
 "Jangan nilai diri lo berdasarkan apa kata dunia atau kata orang lain." - hal 87
Saya juga suka dengan tokoh Celine, teman sekamar Rania yang bisa memberikan nasehat untuk Rania, teman yang sangat peka dan pengertian. Salah satu kalimatnya yang saya suka adalah
"When you spend time worrying, you're simply using your imagination to create things you don't want. Choose faith over worry." - hal 197
Yah, memang betul. Kadang kita terlalu banyak membayangkan hal-hal yang belum tentu terjadi. Bahkan karena hal itu kita menjadi takut untuk bertindak, kemudian menyesal karena tidak pernah melakukannya.
"The worst regret we can have in life isn't about the wrong things we did, but for the right things we could have done but never did." - hal 192
Keseriusan tokoh Marvel dengan cintanya juga layak kita tiru. Meskipun banyak orang yang sekitarnya yang meragukan cintanya pada Rania, namun ia tetap yakin akan perasaannya. Kalimat Marvel yang sering sekali saya temukan dalam novel ini dan betul-betul bisa jadi contoh untuk kita, agar tidak sembarangan bicara.
"I always meant what I say"
Ah, ya. Satu lagi kalimat yang saya suka dari novel ini.
"Indeed, holding on is loving, but sometimes letting go is loving more." - hal 184
Cerita yang ringan dan sederhana ini, cocok untuk teman bersantai. Menceritakan kisah pertemanan yang hangat, cinta yang manis, dan ketaatan pada agama dalam kehidupan sehari-hari. Kalau saya bilang, membaca novel ini bisa sekali duduk langsung habis. Cukup singkat waktu saya dalam membaca novel More Than Words.

Overall, saya suka bagian awal dan akhir novel ini. Bagian awal terasa hangat dan menyenangkan, dan bagian akhir terasa sangat manis :) Dan juga untuk banyak hal-hal yang bisa dipetik pelajaran, buat saya novel ini ðŸŒŸðŸŒŸðŸŒŸ

CONVERSATION

0 komentar:

Posting Komentar